Posted by: juveniliare | August 23, 2009

Series of (Un)Fortunate Event

Series of (Un)Fortunate Event

::21 August 2009::

Bangun pagi dengan perasaan keki akan hari yang panjang. Kalau mau di data, hari ini…

  1. Ada Olahraga di jam ke 3 – 4. Tengah hari!! Bayangin teuh!!!
  2. Pelajaran Bahasa Jawa..
  3. Harus kumpul jam 3 untuk acara Aku Tresna Budaya (ATB).
  4. Ada kemungkinan pulang jam 9 malam…
  5. Tidak ada orang rumah yang mau mengantar ke acara.
  6. Pulang sekolah jam 2. Itu artinya ngga akan ada waktu untuk istirahat sebelum acara ATB.
  7. Puyeeeeng….

So, it was another cranky morning for a not morning person like meh. I ended up being a total bitch for the whole morning in my house before going to school with Nimbostratus clouds condensing around my head. Add some lightning here and there and I can try top Zeus.

First period till second was Biology in Bio-Lab. It was quite fun. Lift some dark clouds from my vision and I can happily joke with the others.

Tiba tiba ada pengumuman.. mengatakan bahwa hari ini tiap pelajaran akan dipotong waktunya sepuluh menit dan kita dapat pulang pada jam 12. Yeah!! Feels like the whole sky went bright and butterflies and white bunnies are hopping everywhere!!! Everything seems so perfect. Olahraga tidak akan terlalu melelahkan. Masih ada waktu untuk istirahat sebelum ATB. Dan uh waaooow!!!

3rd period. Sport. Kita disuruh lari keliling sekolah 3 kali. Mungkin karena aku yang terlalu semangat, keganjenan, atau entah apa. Ketika lari, seperti biasa aku berlari di trotoar dan ketika aku akan melompat ke jalan raya (yang sepi karena sekolahku berada di satu daerah ‘elit’ jogja yang sekolahku dikelilingi rumah rumah mewah) aku kepleset.

Yep, meh the ever so great meh trip down over nothing.

Refleks mengatakan untuk menggunakan tangan untuk menahan jatuh. Dengan sukses kedua telapak tanganku bertemu jalan aspal dengan menyakitkannya dan saat itu, kebetulan sekali sebuah mobil Suzuki APV berwarna hitam lewat disampingku. Temanku yang kebetulan berada di belakangku berteriak dengan kencangnya (menjerit tepatnya):

KYAA!!! Tane KETABRAK mobil!!!!

It was a total high school drama. Para anak laki laki yang sedang bermain futsal tiba tiba menengok ke arahku yang sedang terduduk di pinggir jalan. Beberapa temanku yang berada di depanku langsung lari ke arahku untuk melihat keadaanku. I guess they thought I’m already a goner 😀

“Cuman luka aja kok..” Kataku dan mengangkat tanganku yang kugunakan untuk menahan jatuh. Darah berkucuran… Tampaknya kulit tangan bagian bawahku terkelupas dan dari situ darah keluar. Ada yang menjerit lagi dan drama bertambah. Aku yang masih shock hanya bisa cengar cengir garuk kepala ngelihat mereka ber-paranoid ria soal ngelihat darah. It was kinda funny.

Setelah dibawa ke guru olahraga, dan diberi betadine dan hansaplast, aku lari satu kali putaran. That’s the first (un)fortunate events of the day. And that’s where everything starts.

——- \(●)/ ——

-Zero’s Banzai Nippon-ji-

Pulang sekolah diadakan rapat terakhir ATB. Untuk singkatnya, Aku Tresna Budaya berasal dari bahasa Jawa yang berarti Aku Cinta Budaya. Dalam rangka ultah sekolahku, kita mengadakan konser/battle musik gamelan mengundang sekolah sekolah lain untuk mengisi acara ini. Aku ditunjuk menjadi LO (lieutenant Officer) untuk SMA 1 bersama temanku yang bernama Giza. Karena kita masih di suruh berkumpul lagi jam 3 di tempat konser, jadi aku bisa pulang dulu…

Jam 3, di tempat konser. Kita memilih tempat Teater Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai tempatnya. Setelah muter muter dengan kakakku mencari fakultas Bahasa dan Seni, akhirnya sampai juga. Saat tiba di sana, ada banyak anak mahasiswa yang sedang dalam acara ospek mahasiswa baru. Mereka menggunakan topi ala petani dan slempangan ala Ms. Universe. Lucu juga sih melihatnya. Dan yang lenih lucunya lagi, karena kita para panitia ATB menggunakan seragam hitam khusus pesanan untuk rangakain acara HUT sekolah, kita sempat dikira mahasiswa ‘pengospek’. Bayangkan kakak kakak mahasiswa melewatimu sambil mengatakan “permisi Mba…”

Ada juga temanku yang dikira mahasiswa tingkat atas yang kemudia diperlakukan dengan penuh hormat oleh mahasiswa mahasiswa baru ini. Wow..

Memasuki gedung teaternya…

Sumpah.

Gila.

Kotor banget.

Itu tiga kata yang semua anak yang memasuki gedung teater katakan. Gedung teater baru saja digunakan anak Ospek dan sama sekali tidak dibersihkan. Cup Aqua dan sampah sampah berserakan dimana mana. Sampah bertumpukan di depan pintu utama, ceceran air yang bocor dari cup Aqua dimana mana, dan yang lebih parahnya lagi, kitalah yang harus membersihkannya.

Mau tidak mau kita kerjakan juga.. Sambil ngedumel keras keras diantara panitia kalau ada anak UNY lewat: “Gila ya anak UNY. Sumpah jorok banget. Ngga tanggung jawab lagi…” Kita para panitia ngga terima dong!!

Setelah dua jam bekerja penuh, akhirnya teater berstatus ‘layak pakai’. Sofa sofa untuk tamu undangan mulai diangkut oleh anak UNY (yang akhirnya sadar diri untuk ngebantuin kita) dan dekorasi bernuansa batik mulai ditempelkan disana sini.

Tiba tiba seorang temanku menyeretku ke kelompok mereka.

“Kita harus nyari Bule.”

Oh, Okay….. WHAT!!!

“Siapa gitu nyari ke prawirotaman buat nyari bule!!”

Oh God… I’m betting my nonexistence boyfriend that it would be…

“Tane, kamu sama *insert cameo name here* pergi ke Prawirotaman!!”

Uh oh.. Life is just soo wonderful. Tapi setelah dipikir ulang, dari pada terjebak di teater yang panas dan masih agak kotor ini, bukankah lebih menyenangkan untuk pergi muter muter dengan motor?

So, Ikemas!!!

Dengan bekal poster ATB dan satu bundle tiket yang belum terjual, aku dan temanku naik motor pergi ke daerah wisata Jogja yang terkenal akan jejeran toko toko batiknya, Prawirotaman. Bahkan sampai Maghribpun kita tidak menemui satu orang asing yang mau ke acara gamelan kita. Yah memang salah kita juga sih publikasinya baru sekarang…

Dengan tangan kosong, aku dan temanku kembali ke teater dimana beberapa sekolah telah berdatangan.

Hampir semuanya sudah datang kecuali sekolah yang menjadi tanggung jawabku.

Giza sudah panik, kalau dia punya cakar mungkin hp yang baru saja dia gunakan untuk menelpon CP SMA 1 sudah akan dia potong kecil kecil dan membuat api unggun darinya. Aku menelpon mereka dan melancarkan serangan ‘Why the fuck aren’t you here?’ question. Jelas mereka mulai panik mendengar suaraku yang galak 😀 dan aku mendengar anak yang aku telpon menjauh dari telpon dan berteriak ke teman temannya untuk berangkat sekarang. Whew Imma rox…

The problem is, itu sudah jam 19.00 dan mereka seharusnya tampil jam 19.20. Walaupun acara jadi ngaret hingga hampir 1 jam, tapi mereka seharusnya datang lebih awal!!!

Aku marah. Panik. Dan sebal. Tiba tiba ada seorang senior yang memanggilku karena suatu keperluan, karena tidak memerhatikan jalan, aku jatuh. Bukan hanya jatuh ‘jatuh’. Tapi jatuh dari panggung berketinggian satu meter yang dibawahnya ada tangga.

Wheee.. Free fall…

I fall butt first. And end up gazing at the ceiling with starry eyes. Everybody was around me. Like in the movie. When the main character wakes up and everybody was circling him and eying him in concern? Yep, just like that…

Kebetulan juga waktu itu peserta dari SMP4 sedang melakukan cek sound, mereka juga ada di sana melihatku bungee jump. Rasanya hal ini pernah terjadi sebelumnya, pikirku…

Akhirnya peserta dari SMA 1  datang juga.. tapi kurang satu… =_=;

Mereka bilang si teman mereka ini lagi nyasar dan sedang berada di parkir Fakultas Bahasa yang satunya lagi. Dan dengan motor teman, aku pergi berusaha mencari ‘parkir Fakultas Bahasa yang satunya lagi’ itu. Padahal itu sudah malam, dan aku tidak memakai helm, dan aku juga tidak tahu medannya dengan baik. Point is, it was more like a suicide trial than a rescuing mission.

Si ‘anak ayam yang tercecer’ tidak di ketemukan.. Tiba tiba temanku menelponku di tengah jalan dan mengatakan kalau akhirnya tim sudah lengkap! So much for my self appointed rescuing mission…

Pada akhirnya, banyak sekali kejadian kejadian yang menimpaku. Seperti berdebat dan (nyaris) memarahi seorang pendamping sekolah yang ngotot untuk dapat jatah waktu lebih di panggung, ke sandung satu alat musik dan di marahi senior karena katanya kita harus ‘extra’ hati hati akan alat alat musik ini, spiritual factors she said.

Acaranya sendiri… Luar biasa hebat. Mengagumkan. Dari SMA 1, mereka menampilkan gamelan yang biasa biasa saja, dari SMA Stellla Duce, mereka memainkan gamelan kontemporer yang luar biasa. Mereka tetap menggunakan gamelan dan alat alat lainnya itu, tapi aransmennya luar biasa sehingga konser gamelan ini menjadi lebih hidup.

Kemudia muncul anak dari SMP4, mereka memainkan lagu ‘gundul gundul pacul’ yang sudah di re-arrasnmekan dan menjadi keren sekali dan juga disertai ana kanak SMP yang menari nari menampilkan suasana ‘terang bulan’.

Dari SMP6…. Jaw dropping. Mereka ‘nembang’, memainkan lagu lagu jawa dengan suara yang ‘horor’ dan ‘jawa’ sekali.

Dan karena SMA 1 adalalah peserta yang pertama muncul, jadi dengan segera aku juga jadi tidak punya kerjaan dan bisa ikut menonton dengan beberapa temanku yang juga ikut datang untuk menonton acara ini. We both end up talking about Indonesian past and present music. Aku kaget menemukan seorang cowok yang seumuran denganku dan ternyata juga menyukai Chrisye. Apalagi ternyata cowok ini adalah teman SD ku yang juga merupakan teman SMP dan sekarang ketemu lagi di SMA. Kita satu institut terus…

Akhirnya muncul peserta SMA Taman Madya. Mereka terkenal akan aransmen mereka yang unik dan baru. Mereka menyanyikan lagu jawa “Jaman Edan” yang disertai drum dan bass. Menjadi berunsur rock dan bener bener keren.. Mereka juga melakukan musikalisasi puisi yang walaupun tidak bisa dimengerti tapi, intermezzo antar puisinya keren sekali…

Mereka juga menampilkan satu karya gamelan kontemporer yang mereka ciptakan sendiri. Bernuansan Jazz yang membuat kita pendengarnya berdiri untuk bertepuk tangan di akhir penampilannya.

Penampilan terakhir adalah dari Perkumpulan musik ‘Stupa’ yang merupakan perkumpulan anak FBS UNY. Mereka memainkan 4 lagu dengan gamelan yang bernuansa rock, pop, jawa, dan reggae. Pada bagian reggae, karena waktu itu sudah sekitar jam 10 an, rata rata penonton berasal dari panitia dan anak anak UNY sendiri, kita semua kemudian maju  ke selasar di depan panggung dan ber-gila disana.

It was sooo cool. Never knew that gamelan concert can be this cool and crazy.

Finally it was time to go home. Aku berhasil dapat ijin pulang di sekitar jam 10.30 an. Dijemput kakakku yang kemudian juga ikut menonton Stupa bermusik dan kemudian kita langsung pulang ke rumah tanpa mampir mampir lagi.

That’s all. For this time.

Point is… Yeah I hate Javanese language. But Yes. I love their gamelan so much…

It was a crazy start of day with a crazy night ending….

::Series of  Un(Fortunate) events::

end

Advertisements

Responses

  1. Alay detected.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: